Kabar kongo .com " Mangudi ing tumindak kang becik,lan sugih paring marang pepadan "

Minggu, 27 November 2011

Ritual Bakar Sesaji (Suroan) di Gunung Kawi





KabarKongo.com Kabar terkini dari Kodok Ngorek Community.

Sabtu (27/11). Sebagai salah satu daerah wisata alam yang sudah terkenal di Nusantara, Gunung Kawi juga mempunyai agenda tahunan yang bisa dijadikan momentum daya tarik wisatawan manca dan dalam negeri terutama Kabupaten Malang.  Di setiap tanggal 1 Suro, sesepuh Gunung Kawi selalu melaksanakan ritual bakar sesaji yang berupa raksasa yang dikenal dengan ogo-ogo. Ogo-ogo ini adalah raksasa yang melambangkan keangkaramurkaan. Dengan jalan dibakar harapannya adalah musnahnya keangkaramurkaan di daerah Gunung Kawi ini khususnya. 

Adapun setiap Rukun Warga yang juga mengikuti kegiatan ini, semua membuat sesaji berupa tumpeng yang diletakkan beberapa papan khusus yang dikirap dan dipanggul oleh beberapa orang. Beratnya bisa bermacam-macam mulai dari beratnya kwintalan hingga ukuran ton. Ini bisa dilihat dari banyaknya pemanggul sesaji tersebut. Yang terlihat paling berat pada arak-arakan tadi siang adalah papan sesaji yang berupa ular naga. Tak kurang dari 20 orang memanggul papan ini. 

Sebelum arak-araka diberangkatkan, di tempat start juga ditampilkan gerakan tari dari para peserta yang kebanyakan ibu-ibu / peserta putri. Mereka menari dengan iringan musik drumband meskipun lagunya berupa puji-pujian dari agama Islam.

Kirab ini dimulai setelah adzan Dhuhur, dengan route dari tempat start menuju parkiran atas dan bebelok ke bawah berputar ke arah pintu gerbang dekat pasar. Di daerah jalan yang lapang para peserta kembali menunjukkan kebolehannya untuk menghibur penonton yang meluber di sepanjang jalan yang dilalui kirab.

Dan yang paling akhir adalah dikirabnya ogo-ogo menuju pesarean. Di sana nanti ogo-ogo akan dibakar habis dengan disaksikan oleh pengunjung. Adapun tumpeng yang dibawa akan dipurak bersama-sama.Jika kali ini pembaca belum sempat hadir dan melihat kegiatan ini, ada baiknya tahun depan bisa hadir menyaksikan. Yang penting harus betah berdesak-desakan. Apa lagi saat berada di jalan naik tempat kirab menuju pesarean.

0 komentar: