Kabar kongo .com " Mangudi ing tumindak kang becik,lan sugih paring marang pepadan "

Rabu, 27 Juli 2011

Petilasan " Mbah Tunggul Wulung " Sukun Kepanjen Telah di Renovasi



Kabar Kongo Terkini - Alkisah, pada jaman dahulu terdapat sebuah hutan yang luas dan besar ( alas gung lewang-lewung ) yang sangat angker. Suatu saat ada seorang pengembara sakti dengan kemampuan linuwih dari kerajaan Mataram bersama pengikutnya tiba di daerah hutan tersebut.

Pada saat beristirahat di malam hari, pimpinan rombongan tersebut mendapat sebuah petunjukd / titah dari Sang Hyang Widhi / Allah SWT agar mereka membabat dan menebangi hutan tersebut untuk dibuat menjadi sebuah perkampungan atau desa. Menuruti titah tersebut, dengan bergotong royong mereka membabat hutan dan mendirikan rumah-rumah kecil yang berbentuk gubuk-gubuk dipergunakan sebagai tempat tinggal. 

Dengan berkembangnya jaman, akhirnya  tempat tersebut menjelma menjdi sebuah perkampungan atau dusun dengan nama Sukun. Kenapa diberi nama Sukun? menurut tetua  karena daerah ini merupakan “suku= (jawa)” yang berarti  kaki. Yaitu kakinya Gunung Kawi.

Nah siapa sebenarnya pimpinan / tetua perkampungan tersebut ? Beliau  mempunyai gelar “ Eyang Tunggul Wulung” . Sedangkan nama aslinya adalah “ Empoe Soerjo Soepranoto “ dengan nama keratonnya “ Raden Panji Soerjo Koesoemo”

Entah sejak kapan? yang jelas beberapa dengan berjalannya waktu di dusun Sukun RW. 05 kecamatan Kepanjen ini telah terdapat sebuah petilasan / punden “ Mbah Tunggul Wulung “ yang sampai saat ini masih di uri-uri / dipundi-pundi oleh masyarakat dusun Sukun ini. Adapaun lokasinya  berjaraj 50 meter  dari jalan raya dan berada lurus dengan gang 2 jalan Bromo yang tenbus dengan jalan Anjasmoro Kepanjen.

Sebagai masyarakat desa yang kaya akan akar budaya serta beberapa adat istiadat , masyarakat desa meyakini akan keberadaan tetua yang harus dihormati. Mereka tidak pernah melupakan jasa dari tetua yang telah babat alas sehingga terciptanya sebuah dusun / kampung yang mereka tempati sekarang ini.

Setiap tahun warga dusun Sukun selalu melaksanakan barikan atau bersih desa dengan harapan agar kampung mereka selalu aman dan masyarakat selalu diberikan dalam lindungan  Sang Hyang Widhi ( Allah SWT ), masyarakata selalu mendoakan arwah Sang babat alas yaitu “ Mbah Tunggul Wulung “. agar semua amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT. Amien.

Eit, jangan salah tafsir dulu. Dengan uri-uri dan mundi petilasan "Mbah Tunggul Wulung "ini bukan berarti masyarakat Sukun musyrik dan syirik akan keberadaan Allah SWT. Namun masyarakat hanya ingin memberikan pakurmatan dan ungkapan terimakasih akan jasa-jasa “ Mbah Tunggul Wulung “ dengan melaksanakan doa bersama di petilasan ini. Syukur-syukur jika mendapat syafa’at atau sawab dari  jawaban do’a  Eyang Tunggul Wulung.

Kenapa kita harus percaya ?
Sebagai contoh yang pernah terjadi karena yang punya hajat melupakan keberadaan ,  saat ada masyarakat desa melaksanakan hajatan dan melalaikan tata cara adapt orang jawa , ternyata yang terjadi adalah saat hajatan nanggap wayang kulit, saat wayang akan dimulai sound sistim yang dipergunakan tidak bunyi sama sekali alias ngadat. Stelah ditunggu beberapa lama ternyata juga tak ada perubahan. Dan setelah ada tetua kampong yang memberi saran agar sang punya hajat mohon ijin dengan mengirim sesaji ke petilasan “ Mbah Tunggul Wulung : ternyata saat itu juga sound sistim bisa berbunyi.
Sampai sekarangpun, setiap ada orang punya hajat, sebagai orang Jawa mereka selalu tidak pernah meninggalkan tradisi kirim sesaji ke petilasan ini.

Gampangannya adalah dengan datang ke petilasan dan mendoakan seseorang, tentunya kita juga akan didoakan oleh orang tersebut agar diberikan keselamatan dan kelancaran hajat kita. Jadi bukan berarti musyrik atau syirik, karena kita tetap memuja Tuhan Yang Satu yaitu Allah SWT.

Yang perlu diketahui,
Keberadaan petilasan (punden) ini dari tahun ke tahun kondisinya adalah berupa tembok kecil dengan genting kuno dan sakanya sudah reyot karena di makan kumbang serta sangat kotor dan kumuh..

Namun seperti yang Anda lihat pada foto-foto berikut, kondisi petilasan ini sudah sangat berbeda. Selama 23 hari punden / petilasan ini telah direnovasi dengan bangunan seluruhnya berupa cor semen dan pasir. Ini semua berkat tekad dan niat dari salah seorang keturunan sesepuhnya orang Sukun yaitu Suryadi Cholik didukung oleh warga dan simpatisan yang peduli akan keberadaan sebuah petilasan / punden sebuah desa./dusun.


 







Pada kesempatan ini Suryadi Cholik mewakili masyarakat Sukun yang mandegani  renovasi  petilasan tidak lupa menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada saudara-saudaranya yang telah membantu terlaksanakanya renovasi “ Petilasan Mbah Tunggul Wulung” di dusun Sukun ini. Baik berupa materi, pikiran maupun tenaga.  Semoga amal-ibadah saudara-saudara diterima oleh Allah SWT. Amien.

Catatan :
Yang terpenting adalah jangan sampai muncul anggapan dengan merenovasi tempat ini muncul rasa curiga dan merasa dilancangi. Karena semua yang dilakukan ini adalah niat baik seseorang dalam meng-uri-uri / memundi serta memberi pakurmatan kepada sesepuh yang telah babat alas dusun Sukun. Meskipun tidak meminta, namun jika masyarakat ingin berbuat lebih banyak/ baik demi kesempurnaan bangunan sekitar petilasan Mbah Tunggul Wulung. Sumangga.

0 komentar: