Kabar kongo .com " Mangudi ing tumindak kang becik,lan sugih paring marang pepadan "

Minggu, 08 Mei 2011

Di Belakang Panggung Putra Barong






Kabar Kongo Terkini - Wisatawan yang datang ke Bali, rasanya belum lengkap kalau belum mengunjungi Putra Barong tempat pertunjukan Tari barong yang setiap hari mulai pukul 09.30 WITA - 10.30 WITA. Karena bagus dan ada unsur lucunya cerita pada tarian ini. Setiap kontributor pergi ke Bali saat mengantar siswa, pasti ada tujuan wisata ke Putra Barong daerah Batu Bulan ini.
Pada kedatangan Kontributor KabarKongo.com kali ini, mencoba untuk menelusuri sisi lain dari para pemain Tari Barong yang boleh dikatakan sudah mendarah daging. Setiap hari mereka tampil satu kali dalam sehari. Namun jika ada permintaan khusus mereka bisa tampil 2 sampai 3 kali dalam sehari. 

Selanjutnya Kontributor akan menyajikan hasil penelusuran dengan bahasa saya.
Saat Tari barong belum dimulai, saya tidak ikut masuk gedung dimana pertunjukkan dilaksanakan. Namun saya  menuju belakang panggung tempat para pemain merias wajah. Saya sempatkan mengambil gambar  dari kegiatan persiapan pemain. Meskipun nampak keras dan kaku ternyata mereka berhati lembut. Tidak ada yang melarang pengunjung yang ingin mengambil gambar di sini. 

Terlihat beberapa orang sedang duduk di depan kaca besar yang disediakan di belakang panggung. Saat itu saya  melihat dua orang wanita sedang merias wajahnya tanpa bantuan perias wajah. Mereka merias sendiri wajah mereka sebagaimana biasa  yang diperankannya setiap kali tampil. Di depan mereka ada seorang anak kecil yang tiduran menunggu ibunya merias.

Di dalam rumah kecil juga terlihat beberapa orang lelaki keluar dengan pakaian sarung kotak warna hitm putih campur merah. Kebanyakan dari mereka hanya tidak memakai baju. Karena kalau yang saya tahu perannya memang tidak menggunakan pakaian atas. Hanya sarung dan keris.

Saya mencoba mengorek keterangan dari salah seorang pemain yang kebetulan duduk bersandar di dinding menunggu jatahnya tampil. Setelah saya memperkenalkan diri, diapun memperkenalkan diri dengan nama  Wayan. Lengkapnya I Wayan Ika. I Wayan Ika ternyata adalah seorang sarjana ISI ( Intitut Seni Indonesia ) di Bali. Umurnya 27 tahun dan masih lajang. Dia mengambil jurusan karawitan Bali. Namun dia juga mampu memahat dan membuat patung. Saat saya memberanikan diri untuk bertanya berapa  HR yang diterimanya sebagai bagian dari Tari Barong yang terkenal itu. Wayan menjawab kalau dia dibayar bulanan. Dan  saya pun kaget saat Wayan  menyebutkan nominal yang sangat jauh di bawah UMR di Malang. 

Yang saya acungi jempol adalah dengan saat menyebutkan  nominal tersebut  tidak ada rasa wadul kepada saya. Mungkin beda dengan orang Malang kalau gajinya jauh di bawah UMR. Dalam hatikupun saya berkata, betapa besar rasa syukur orang Bali. Biarpun gaji sedikit namun dinikmati saja. Kepasrahan yang tinggi nampak pada sebagaian orang Bali. Kalau tidak percaya, saat memasakpun sebelum si makan orang Bali biasa menyisihkan untuk memberikan sesaji yang biasanya diletakkan di depan rumahnya.

Dari Wayan ini pula saya baru tahu jika Tari Barong di sini adalah milik perseorangan. Bukan seperti bayangan saya semula bahwa Putra Barong ini milik Pemerintah Daerah Bali. Nampaknya pemilik Putra Barong inipun sadar akan perlunya melestarikan budaya Bali. Buktinya si pemilik sanggup menggaji  sendiri pemain yang berjumlah sekitar 22 orang pemain dan puluhan penabuh gamelan perbulan.

Andaikan pertunjukan budaya Tari Barong ini dimiliki pemda setempat saya yakin honor mereka akan semakin besar.

0 komentar: