Kabar kongo .com " Mangudi ing tumindak kang becik,lan sugih paring marang pepadan "

Selasa, 09 November 2010

Ubi Gunung Kawi Kulon Metro

KabarKongo.com--Jika Anda menyusuri jalan Kawi Sukun, tepatnya perempatan Kepanjen ke jurusan Blitar hingga barat jembatan Metro. Anda akan melihat beberapa bedak bambu dengan ubi  gunung kawi. Kebanyakan ada tulisan ubi gunung kawi asli. Ubi madu gunung kawi dan sebagainya. Kalau dihitung ada 10 an bedak yang berjualan ubi kawi ini. Kenikmatan rasa ubi Gunung Kawi memang sudah terkenal di mana mana. Setiap orang yang berkunjung ke wisata ritual Gunung kawi, rasanya tidak lengkap kalau pulang tidak membawa oleh oleh khas dari gunung kawi.

Tapi yang perlu digaris bawahi di sini adalah siapa pioner penjual ubi gunung kawi ini di Kepanjen? Jawabnya adalah Mas Tatok dengan Mbak Tari istrinyalah orangnya. Kebetulan memang Mbak Tari ini asli wong Gunung Kawi.
Di awali kurang lebih 24 tahun lalu, Mas Tatok dan istrinya membangun usaha jula ubi dengan mengusung nama  UD. Lestari. Mereka berdua sempat merasakan saat jaya-jayanya jual ubi Gunung Kawi di saat orang lain belum ada yang membuka usaha serupa. Dan dari hasil jual ubi ini pula mereka bisa menyekolahkan dan mengkuliahkan 2 putra-putri mereka.
Pelanggan ubi UD Lestari  sudah tersebar di beberapa daerah. Kebanyakan pelanggan mereka adalah orang-orang bermobil.  Kebanyakan pelanggan berasal dari arah barat (Blitar) dan mampir karena kebetulan lewat di depan UD.Lestari namun tak jarang karena mereka sebagai pelanggan ubi gunung kawi di sini.

Selain di jual sendiri, ternyata Mas Tatok juga  sebagai penyuplai Ubi Gunung Kawi untuk daerah Trenggalek, Tulungagung hingga Pulau Dewata Bali.
Katanya, sekarangpun  masih banyak pesanan ubi ini dari Bali yang jumlahnya tidak sedikit bisa sampai 2 ton. Namun mas Tatok tidak sanggup untuk menerima pesanan itu karena keterbatasan stok ubi gunung kawi sendiri. Ini bisa terjadi karena banyaknya  petani Ubi Gunung kawi yang beralih profesi.
´ Waduh mas, saiki angel nggolek petani telo. Sejak ono pabrik susu gek nduwur, akeh wong-wong ku sing milih nandur suket gajah gawe pakan sapi. Jarene 3 ulanae wis panen, gak usah nunggu 6 ulan koyo nandur telo, ” jawab Mas Tatok saat reporter tanya bangaimana stok ubi Gunung Kawi sekarang ini.
” Opo maneh ono sing ngrusak pasaran, telo didol Rp. 10.000,- / telung unting. Teko endi iku itungane? ”
” Tapi nek sing tuku ngerti, telo sing tak dol karo sing di dol wong-wong iku beda. Contone iki lho mas,  pean tak wenehi ngerti,” kata Mas Tatok sambil mengambil 2 buah unting ubi yang tidak sama diletakkan di depan saya.

Katanya, antara ubi yang dipupuk organik dengan yang dipupuk urea itu beda, yang dipupuk urea ubinya sangat keras dan untuk memasaknya bisa berjam-jam serta tidak tahan lama. Beda dengan yang dipupuk biasa.
Selain menyediakan ubi untingan 2 kg yang dihargai Rp. 7.500,- an, UD. Lestari juga menyediakan besek sedang dan besek besar. Untuk ubi besek sedang dihargai Rp. 50.000,- per besek  dan yang besar Rp. 100.000,-  per besek. Di tempat ini pula pembeli bisa mendapatkan ubi yang sudah dimasak. Per beseknya dijual dengan harga Rp. 5.000,-Pembeli tinggal menyantap dan merasakan rasa manisnya ubi gunung kawi hasil masakan UD. Lestari mungkin akan lain jika memasak sendiri. Ternyata  memasak ubi gunung  kawi ini memang ada triknya tersendiri, mengapa bisa terlihat seperti berminyak. Kalau menginginkan, Anda bisa juga memesan ubi masak di UD Lestari ini untuk keperluan hajatan atau pesta yang menginginkan hidangan ubi gunung kawi.

Nah. Siapa yang ingin beli ubi gunung kawi asli berikut cara memasaknya, silahkan mampir di UD. Lestari yang berada tepat di barat jembatan kembar Metro Kepanjen. Anda akan ditunjukkan mana ubi yang manis dan mana yang biasa. Anda pasti  dijamin puas dan tidak akan kecewa. Karena UD. Lestari ini menerapkan slogan ” Jangan kecewakan pembeli ” (admin).

0 komentar: